Google Translator

    Translate to:

Send To Readmill

Send to Readmill

Admin

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1 other subscriber

Best Online Bookstore -Gramedia

Best Online Bookstore -Gramediana by Gramedia

Penerbit Buku

Penerbitan Buku

Sutera terbaik dari kepompong ulat sutra liar [Attacus Atlas] dan [Cricula Triphenestrat]

Peluang Bisnis

Batik Fashion Online

Hosting Terbaik – Professional dan Berkualitas

Jasa Web Design & Pembuatan Website termurah

Available Space

Hosting di Indonesia – Server Internasional

Hosting di Indonesia – Server Internasional

Hosting at AMIKOM Yogyakarta

Unlimited Bandwidh and Space

Domain Murah

Domain Murah di Jogjahost

Resseller Hosting Paling Murah

Resseller Hosting Paling Murah

Radio Online

Radio Online

Toko Online siap Pakai

Toko Online siap Pakai

Domain hanya Rp.89.000/Tahun

Domain hanya Rp.89.000/Tahun

Virtual Private Server Murah

Virtual Private Server Murah

Space Besar dengan Harga Ekonomis

Space Besar dengan Harga Ekonomis

Batik Fashion Online

Banner Batik

The Biggest Batik Store

Valentine Day Promo dari LAZADA – Belanja Mudah dan Murah

Promo Hari ini – LAZADA Belanja Mudah dan Murah

Top Product – LAZADA Belanja Mudah dan Murah

lazada.co.id

Hosting dan Domain di Bali Orange Comunication

Hosting Indonesia

Batik Fashion Online

Peluang Bisnis

Peluang Menjadi Agen Tiket Pesawat

It Started from the Virtual World

Hayu and Noto had been dating for about 10 years, most of which were spent in long distance relationship. Communication and open discussion become the key of their enduring relationship.

MIRC: the First ‘Hi’

The story of Hayu and Noto might be a unique one. They met each other in a high school chat group sometime around the year of 2000. At that time, Hayu had just moved to her new school in Singapore after she finished her first year in SMA 3 Yogyakarta (Padmanaba).

At the early times of moving to Singapore, Hayu kept a good communication with her friends from her former school through a chat group in MIRC. This is where the story of Hayu and Noto, who is also a graduate of SMA 3 Yogyakarta, started.

“Padmanaba had some sort of channel in MIRC at that time. Well, Mas Noto was one of the moderators. From that moment, I knew him and then we often chatted,” said Hayu. After a while, the chat they shared in the group channel went further to a private chat window.

Hayu and Noto was getting closer in their relationship when they found out that GKR Hemas (Hayu’s mother) and Noto’s mother were best friends since elementary school until high school. That revealed fact put them even closer. Furthermore, when Hayu departed to the US to continue her college education, GKR Hemas entrusted her daughter to Noto’s care. At that time Noto was still finishing his Master Degree there.

“Well, at that moment, Jeng Ratu was sent to New York alone to study in the university. I was really amazed by her braveness and self-reliance. Also, I never heard any complaints from Jeng Ratu during her education abroad.” Noto added, “Since that moment, I started to have admiration toward her. In my opinion, she is a strong, independent, intelligent, and passionate young lady,” he continued.

The summer of 2003 in the US was the beginning of their love story. Noto finally expressed his feeling to Hayu. “Mas Noto fits the type of man I dream of. He’s smart, friendly, also good at singing and playing musical instruments,” told Hayu when she was asked the things she likes about Noto. “Mas Noto is also a cheerful and sociable person, so he never had too much trouble adapting to my family,” she added.

For Noto, Hayu is a unique person. “I am always impressed by her intelligence during our discussions and the way she gives me advice and inputs, I never even thought about. It all puts me on an even keel to choose her as my lifemate.”

A Decade of Long Distance Relationship

Unlike other couples in general, Hayu and Noto often experienced long distance relationship during their 10 years of togetherness. Luckily, they had the technology to bring them closer. Web chatting and phone calls were the best way they could get to heat their love while the miles tried to make it cold. Usually, every week they dedicate some times to share stories.

“We both are not romantic type of people. But I like it best when Mas Noto sent me a voice note. It is a recording of him singing along while playing guitar. For me, it is very romantic,” said Hayu. “We happen to share a similar taste of music. We both like classical orchestra, and jazz.”

“Jeng Ratu can be romantic too. Once, she suddenly surprised me by sending flowers to my office. It rocked the office at that time,” Noto added while laughing.

Noto admits that it is not easy to pass through this 10-year love story. Beside the distance, the bustles each of them have to engage in sometimes emerges problems. Hayu admits that there were several break-ups with Noto. “Yet, love is not going anywhere. At the end, we always get back together,” said Hayu.

There is a similar trait both of them share: “stubborn”. They also frequently have contradictory point of views in grasping problems. On one hand, it is a constraint, but on the other, that drags them into having a lot of discussions when facing problems. “Mas Noto is really open for discussions. He always invites me to sit down together so we can break down the problems and work things out,” said Hayu.

“The key is communication. Even though we were parted by miles, communication always has to be maintained,” Noto added. “Quarrels never last long. Usually, we only need to calm ourselves down so we can clear our heads. After that, each of us would realize our mistakes,” Noto continues.

Noto’s perseverance in staying together with Hayu, who is in fact someone born as a highly regarded person in Yogyakarta, makes Hayu believe to tether her heart to Noto’s. “I am not a person easy to take as a spouse, because of both my family background and also my personality. Mas Noto never gives up in 10 years. It makes my feeling even stronger for him,” said Hayu. Noto’s patience for Hayu, in the past 10 years, has won her over.

“Jeng Ratu and I have known each other for a long time. Also, the Kraton family is very open. So far I never have any difficulties to approach them,” he added with a smile.

Bermula dari Dunia Maya

Hayu dan Noto berpacaran selama kurang lebih 10 tahun, dimana sebagian besar mereka jalani dengan kondisi pacaran jarak jauh. Komunikasi dan diskusi yang terbuka menjadi kunci langgengnya hubungan mereka.

Bertemu Lewat Grup MIRC

Kisah pertemuan Hayu dan Noto bisa dibilang cukup unik. Mereka dipertemukan lewat sebuah group chat SMA mereka sekitar tahun 2000. Saat itu, Hayu baru saja pindah sekolah ke Singapura setelah sebelumnya sempat mengenyam pendidikan selama setahun di SMA 3 Yogyakarta (Padmanaba).

Pada awal kepindahannya di Singapura, Hayu berkomunikasi dengan teman-temannya di SMA 3 melalui channel grup chatting MIRC. Disinilah awal perkenalan Hayu dengan Noto yang juga sama-sama alumni SMA 3 Padmanaba.

“Waktu itu Padmanaba punya semacam grup chatting di MIRC. Nah, mas Noto itu salah satu moderatornya. Dari situ kenal, terus berlanjut jadi sering ngobrol.” kenang Hayu. Dari situlah, chatting yang awalnya hanya di grup, kemudian berlanjut menjadi chat pribadi.

Hubungan Hayu dan Noto semakin dekat hingga mereka mengetahui bahwa GKR Hemas (ibunda Hayu) dan ibunda Noto adalah teman dekat sejak SD sampai dengan SMA. Hal ini yang semakin mendekatkan mereka. Apalagi, ketika Hayu berangkat ke Amerika untuk melanjutkan kuliahnya, GKR Hemas menitipkan putrinya untuk dibantu oleh Noto, yang waktu itu juga sedang melanjutkan sekolah S2 di sana.

“Iya, waktu itu, Jeng Ratu sudah dilepas ke New York sendirian buat kuliah. Saya kagum dengan keberanian dan kemandirian dia. Saya juga nggak pernah mendengar Jeng Ratu berkeluh kesah selama kuliah sendiri di luar negeri.” Noto menambahkan. “Sejak itulah saya kagum dengan Jeng Ratu Hayu. Menurut saya dia perempuan yang strong, independent, intelligent, dan passionate.” lanjut Noto lagi.

Musim panas tahun 2003 di US adalah awal dimulainya kisah cinta mereka. Noto mengungkapkan perasaannya kepada Hayu. “Mas Noto ini bisa memenuhi kriteria laki-laki idamanku. Orangnya pintar, ramah, pinter nyanyi dan memainkan instrumen alat musik.” cerita Hayu ketika ditanya tentang apa yang disukanya dari Noto. “Mas Noto juga orang yang ceria dan gampang dekat sama orang, jadi tidak begitu susah untuk dekat sama keluarga.” lanjutnya.

Bagi Noto sendiri, Hayu merupakan sosok yang unik. “Saya selalu terkesan dengan kecerdasan Jeng Ratu Hayu dalam bertukar pikiran dan memberikan saran serta masukan yang nggak pernah terpikir oleh saya. Hal ini yang membuat saya semakin mantap untuk memilihnya sebagai pendamping hidup saya.”

LDR Selama 10 Tahun

Berbeda dengan pasangan pada umumnya, Hayu dan Noto selama 10 tahun pacaran sering menjalani hubungan jarak jauh. Beruntungnya, ada teknologi yang dapat mendekatkan mereka. Chatting dan telepon adalah cara mereka untuk memadu kasih ketika jarak memisahkan. Biasanya dalam seminggu ada satu waktu yang diluangkan untuk saling bercerita.

“Kami berdua bukan tipe orang yang romantis. Tetapi aku paling suka ketika mas Noto mengirimiku voice note saat dia bernyanyi menggunakan gitar, menurutku itu romantis banget.” kata Hayu. “Kebetulan selera musik kami berdua juga sama. Kami sama-sama menyukai orkestra klasik dan jazz.”

“Jeng Ratu juga bisa romantis. Dulu pernah, dia tiba-tiba ngasih surprise dengan ngirimin bunga ke kantor. Lumayan bikin kantor saya geger tuh waktu itu.” Noto menambahkan seraya terkekeh.
Perjalanan percintaan selama 10 tahun ini diakui Noto tidak mudah untuk dilalui. Selain jarak, kesibukan masing-masing terkadang juga menimbulkan masalah. Hayu mengaku sempat putus-nyambung dengan Noto. “Namun yang namanya cinta tidak kemana. Akhirnya toh kami juga kembali lagi.” tutur Hayu disusul dengan tawa.

Ada kesamaan sifat yang dimiliki keduanya, yaitu sama-sama “ngeyel” dan sering bertolak belakang sudut pandang dalam melihat sebuah permasalahan. Di satu sisi itu kendala, tapi di sisi lain, hal itulah yang membuat mereka berdua jadi sering berdiskusi ketika menghadapi masalah. “Mas Noto orangnya sangat terbuka untuk diskusi. Dia selalu mengajak aku untuk duduk lalu membicarakan masalah biar clear dan bisa ditemukan titik temu solusinya.” tutur Hayu.

“Kuncinya ada di komunikasi. Walaupun long distance, komunikasi harus tetap terjaga terus.” Noto menambahkan. “Kalau berantem nggak pernah lama. Biasanya cuma butuh waktu untuk menenangkan pikiran supaya bisa berpikir dengan jernih. Abis itu masing-masing biasanya menyadari kesalahannya di mana.” lanjut Noto lagi.

Perjuangan Noto untuk tetap bersama Hayu, yang notabene seseorang yang terlahir terpandang di Yogyakarta, membuat Hayu semakin yakin untuk menambatkan hatinya kepada Noto. “Aku ini orangnya tidak gampang untuk dijadikan pasangan. Baik dari sisi personality-ku, maupun dari sisi keluarga. Mas Noto ini 10 tahun tidak menyerah. Hal itu yang bikin aku mantep sama dia.” Tukas Hayu. Sifat Noto yang sabar ketika menghadapi Hayu yang terpaut usia 10 tahun pun menjadi nilai tambah buat Hayu.

“Saya dan Jeng Ratu kenalnya sudah lama. Selain itu, keluarga Keraton juga sangat terbuka, jadi sejauh ini sih saya nggak pernah mengalami kesulitan saat mendekati keluarga Keraton.” tambah Noto seraya tersenyum.

Read more at http://kratonwedding.com/story/#ORdBIDzPPeVqSDLG.99

EVENTS

Nyekar

Honoring the Ancestors

Nyekar, literally means ‘to strew flowers’, is a tradition of visiting the graveyards of the late ancestors. Prior to holding a royal wedding, the Kraton of Yogyakarta will firstly conduct the tradition. Nyekar is to be carried out before the wedding day. It is commonly carried prior to the Wisuda Gelar (the Bestowal of New Title) ceremony and the wedding D-day.

In connection to the Wisuda Gelar ceremony, Nyekar is to be carried out by visiting the graveyards of the ancestors who had similar names as the ones which will be bestowed on the couple. The ritual aims to offer prayers to God to forgive the ancestors’ sins and to allow them into heaven.

Meanwhile, the Nyekar ritual carried out before the wedding day aims to pray for God’s blessing as well as to offer prayers to the ancestors.

The things to be paid attention to during the ritual of Nyekar are the order of visit to give and the outfits to wear. The graveyard visit order, which depicts whose graveyard to visit in order, cannot be changed. The order starts from the graveyard of Panembahan Senopati in Kotagede, followed by visiting the graveyard of Sultan Agung in Imogiri.

The outfits to wear are traditional attires. The bride should wearkebaya, a Javanese traditional cloth for woman, which consists of a blouse and batik wrapped skirt. Meanwhile, the groom should wear aperanakan attire (a special type of apparel that is usually worn by the Kraton’s abdi dalems). These clothes come as a manifestation of cultural preservation while being also expected to enhance the devotion while praying.

Alike the common ritual, the activity to carry out during Nyekar within the set of wedding events is offering prayer. The prayers are led by the Abdi Dalems. Following the prayer offering, the couple will then spread flowers onto the graveyards.

Nyekar
Wujud Berbakti kepada Leluhur

Nyekar adalah sebuah tradisi mengunjungi makam-makam leluhur yang telah tiada. Ketika akan mengadakan hajat pernikahan, Kraton Yogyakarta tidak lupa untuk melakukan tradisi ini. Nyekar akan dilakukan sebelum hari pernikahan tiba. Biasanya dilakukan sebelum upacara Wisuda Nama dan sebelum hari H pernikahan.

Nyekar yang dilakukan sebelum upacara Wisuda Nama dilakukan dengan mengunjungi makam-makam leluhur yang dulu memiliki nama yang akan dimiliki oleh kedua mempelai nantinya. Nyekar bertujuan untuk mendoakan sang leluhur tersebut agar diampuni segala dosa-dosanya dan diberi tempat terbaik di sisi Tuhan.

Sedangkan Nyekar yang dilakukan sebelum hari H tujuannya adalah untuk berdoa kepada Tuhan sekaligus mengirim doa dan mendoakan leluhur tersebut.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam Nyekar adalah urutan kunjungan dan pakaian yang dikenakan. Urut-urutan makam siapa yang terlebih dahulu akan dikunjungi tidak boleh diubah. Urut-urutan tersebut yakni dimulai dari Panembahan Senopati di Kotagede, lalu dilanjutkan menuju ke makam Sultan Agung yang terletak di Imogiri.

Pakaian yang digunakan adalah adalah pakaian adat. Calon mempelai wanita menggunakan kebaya dan calon mempelai pria menggunakan baju peranakan. Pakaian ini merupakan wujud laku budaya sekaligus dan sekaligus diharapkan dapat menambah kekhusyukan saat berdoa.

Seperti Nyekar pada umumnya, kegiatan yang dilakukan saat Nyekar adalah berdoa. Doa dipimpin oleh Abdi Dalem. Setelah itu baru dilanjutkan dengan menaburkan bunga di atas makam yang dilakukan oleh kedua calon mempelai.

Read more at http://kratonwedding.com/nyekar/#REF04HHzR8BmuKeq.99

Nyantri

srikaton

Pada saat nyantri, mempelai pria dan keluarganya menempati Gedong Sri Katon. Gedong Sri Katon terletak dalam komplek Bangsal Kasatriyan.

 Introducing the Kraton Life

Nyantri aims at acquainting the Sultan’s future son/daughter-in-law to the life of the Kraton of Yogyakarta. In the course of this ritual, s/he will be taught the way to live as a family member of the Kraton of Yogyakarta. “Nyantri may be seen as a training session for the Kraton’s future son or daughter-in-law,” said KRT Pujaningrat, a Kraton relative and cultural expert, in his residence in Mangkubumen area. Aside from teaching how things work in the Royal Palace, Nyantri is also carried out so that the Kraton may see the daily life of the future son/daughter-in-law, assessing all the behaviors and attitudes displayed during the process.

In the old times, Nyantri would be held for 40 consecutive days. It has been shortened since the reign of Sultan Hamengku Buwono IX. This is because the Kraton understands and tolerates the future son/daughter-in-law’s need to do other activities, such as work. The person who would provide the training for the future son/daughter-in-law in the past was the Pepatih Dalem (the Kraton’s Prime Minister) but, as that position has been abolished, it will be a Kraton elderly appointed by the Sultan.

As time changes, nowadays Nyantri is held for one day only. The groom in this wedding will be taught about the customs and traditions in the Royal Palace, such as how to speak in a specific level of Javanese to the Sultan, how to prostrate before him, and how to do ngapu rancang (the Javanese gesture showing respect and courteousness). He will also be trained to do laku ndhodhok, which is a certain walking gait, in a squatting position, as a form of good manners.

Nyantri will start in the Mangkubumen, a royal mansion located in the west of the Royal Palace and currently used by Widya Mataram University as a campus. From there, the groom and his family will be picked up by the Utusan Dalem (the Sultan’s envoy) and brought to Bangsal Kasatriyan. The Utusan Dalem will take the groom and his family using horse carriages in the accompaniment of a cavalry. The route to be taken will be from the Mangkubumen to Magangan, then continued to Bangsal Kasatriyan on foot.

In Bangsal Kasatriyan, the groom will have been awaited by the princes of the Kraton. Starting then until before the Akad Nikah (the wedding solemnization), it is where the bridegroom will be staying. In the meantime, the bride will be preparing herself in Sekar Kedhaton.

It is in this Nyantri process as well that the delegates from the five districts in Yogyakarta Province (Sleman, Bantul, Gunung Kidul, Kulonprogo, and Yogyakarta City) will present to the Kraton the appurtenances for the installation of the Tarub (temporary buildings for wedding guests) and the Bleketepe (woven coconut leaves for walls, roofs, etc.). These appurtenances will be in the form of agricultural products such as coconuts, rice plants, and sugarcanes.

The bride will also perform the ritual of Nyantri, but it will be different from that for the groom. For her, the Nyantri will consist of activities to prepare for the wedding.

Nyantri

Mengenalkan Kehidupan Kraton

Prosesi Nyantri adalah prosesi yang bertujuan untuk mengenalkan calon menantu kepada Kraton Yogyakarta. Di sini, calon menantu Kraton akan diajari bagaimana hidup sebagai anggota keluarga Kraton Yogyakarta. “Nyantri ini diibaratkan sebagai training center bagi calon menantu Kraton.” ungkap KRT Pujaningrat saat ditemui di kediamannya di kawasan Mangkubumen. Selain untuk mengenalkan kehidupan di Kraton, Nyantri juga dilakukan untuk mengetahui keseharian sang calon mempelai pria dimana segala perilaku dan tindak tanduk yang ditunjukkan akan menjadi tolak ukur penilaian oleh Kraton.

Dulunya prosesi Nyantri dilaksanakan selama 40 hari. Namun sejak era Sultan Hamengku Buwono IX, proses ini dipersingkat. Hal ini dikarenakan Kraton memahami dan memberikan toleransi jika calon menantu memiliki kegiatan lain, misal bekerja. Selain perbedaan mengenai waktu, dahulu yang memberikan latihan bagi calon mantu adalah Pepatih Dalem, namun saat ini setelah posisi Pepatih Dalem ditiadakan, yang melatih saat prosesi Nyantri tersebut diganti oleh sesepuh Kraton yang ditunjuk oleh Sultan.

Seiring dengan perkembangan, saat ini prosesi Nyantri hanya dilakukan selama satu hari. Calon mempelai pria akan diajarkan adat-istiadat yang ada di Kraton, seperti cara berbahasa Jawa dengan Sultan, cara menyembah, dan ngapu rancang (gesture tubuh ala Jawa). Calon mempelai pria juga akan diajarkan laku ndodok, yakni cara berjalan dengan berjongkok yang menjadi simbol perilaku yang sopan.

Prosesi Nyantri akan diawali di Mangkubumen. Mangkubumen adalah sebuah bangunan Kraton yang saat ini digunakan Universitas Widya Mataram sebagai bangunan kampus dan terletak di sebelah barat Kraton Yogyakarta. Dari sini, calon mempelai pria dan keluarganya akan dijemput oleh Utusan Dalem dari Kraton untuk menempati Bangsal Kasatriyan. Utusan Dalem akan menjemput calon mempelai pria menggunakan beberapa kereta kuda dan diiringi oleh pasukan berkuda. Rute yang digunakan adalah dari Mangkubumen menuju ke Magangan dilanjutkan dengan berjalan kaki ke Bangsal Kasatriyan.
Di Bangsal Kasatriyan, calon mempelai pria sudah ditunggu oleh para pangeran. Mulai dari saat ini sampai dengan Ijab Kabul, calon mempelai pria akan tinggal di Bangsal Kasatriyan. Sementara itu, calon mempelai wanita akan berada di Sekar Kedhaton untuk mempersiapkan diri.

Saat prosesi Nyantri ini pula, utusan-utusan dari kelima Kabupaten yang ada di DIY (Sleman, Bantul, Gunung Kidul, Kulonprogo, dan Kota Yogyakarta) akan mempersembahkan kepada Kraton perlengkapan-perlengkapan untuk prosesi pemasangan Tarub dan Bleketepe nantinya. Perlengkapan-perlengkapan itu berupa hasil-hasil bumi seperti kelapa, padi, dan tebu.

Calon mempelai wanita juga akan melakukan prosesi Nyantri. Namun, prosesnya akan berbeda dengan nyantri untuk calon mempelai pria. Pada calon mempelai wanita, prosesi nyantri digunakan sebagai persiapan calon mempelai wanita untuk menghadapi pernikahan.

Read more at http://kratonwedding.com/nyantri/#YM440BCI3CO61qlf.99

Siraman

r siraman putra

The Symbol of Self-Purification

After the Nyantri, the event will be followed by the Siraman ritual. The word siraman is derived from the root siram which means ‘to bathe’. Thus siraman means to bathe both the bride and the groom, with the will to purify them so that they can be clean and pure physically and spiritually. The Siraman ritual will be carried out in Bangsal Sekar Kedhaton as for the bride, and in Bangsal Kasatriyan as for the groom.

r siraman putri

The bride will sit on the bathroom of Bangsal Sekar Kedhaton, dressed in kemben (a traditional Javanese tube-dress) and plaits of jasmine. ANyai Penghulu (a wedding headwoman) will then offer a prayer, asking for blessing from The Almighty.

The water used for Siraman is taken from seven springs located around the Palace. The water will be added with kembang setaman, plaits of various flowers. This water will then be used to bathe the bride. The first one to bathe the bride is her mother, followed by the Kraton elders.

After being bathed, the bride will then take ablution using the water placed in a pottery. The pottery will then be thrown until it breaks out in front of the bride. The crashing of the pottery symbolizes the concept of pecah pamor, which means the revelation of the bride’s charm. It implies an expectation that the bride will be even more beautiful and turns out mangling (making people fail to recognize her due to her extravagant beauty).

Finished with the bathing, the ritual is continued with putting make-ups on the bride. This will be carried out at the east terrace of Sekar Kedhaton building. One of the things to do in the make-up is shaving fine hair on the bride’s forehead. This symbolizes self-purification from negative aspects.

Meanwhile, the water taken from seven springs, which is used to bathe the bride, will be delivered by one of the Sultan’s married daughters to the bathroom at Bangsal Kasatriyan (Gedhong Pompa). This water will then be used in the Siraman for the groom.

At Bangsal Kasatriyan, the groom will be waiting along with his family and entourage. The Siraman will be carried out by the bride’s mother, the groom’s mother, and the other elders. It will be carried out in the same order as such with the bride.

The whole process of Siraman will be carried out by women. This is to honor the women who have taken good care of their children. The number of persons bathing the bride and the groom must be odd. The odd number is derived from the Hindu belief of the Trinity (Brahma, Vishnu, Shiva), which is also believed to keep off perils.

The Siraman ritual is carried out as a symbol of self-purification. Getting married is seen as entering a new phase of life, so that through Siraman it is expected that the bride and the groom will be purified either physically or spiritually.

Siraman

r siraman putra

Simbol Menyucikan Diri

Setelah upacara Nyantri, acara akan dilanjutkan dengan Siraman. Kata Siraman berasal dari kata siram yang berarti mandi. Siraman mengandung arti memandikan calon mempelai yang disertai dengan niat membersihkan diri agar menjadi bersih dan murni atau suci lahir dan batin. Upacara Siraman akan dilakukan di Bangsal Sekar Kedhaton untuk calon mempelai wanita, dan di Bangsal Kasatriyan untuk calon mempelai pria.

r siraman putri

Calon mempelai wanita akan duduk di kamar mandi di Bangsal Sekar Kedhaton dengan kemben dan rangkaian bunga melati membalut tubuhnya. Seorang Nyai Penghulu lalu memanjatkan doa, meminta karunia dari Sang Maha Kuasa.

Air yang digunakan untuk Siraman berasal dari tujuh mata air yang ada di lingkungan Kraton. Air tersebut akan ditaburi kembang setaman, yakni roncean bunga-bunga. Air ini kemudian akan diguyurkan ke tubuh calon mempelai wanita. Guyuran pertama dilakukan oleh ibunda calon mempelai wanita lalu disusul oleh sesepuh keluarga Kraton.

Setelah disirami, calon mempelai wanita kemudian akan berwudhu menggunakan air yang ada di dalam sebuah kendi. Kendi tersebut kemudian akan dipecahkan di depan calon mempelai wanita. Pecahnya kendi ini memiliki simbol pecah pamor yakni keluarnya pesona dari calon mempelai. Diharapkan, setelah ini, calon mempelai tersebut akan semakin cantik dan manglingi (membuat setiap orang tidak mengenal saking cantiknya).

Selesai tubuhnya diguyur air dengan kembang setaman, upacara dilanjutkan dengan merias diri. Kegiatan ini dilakukan di emper Sekar Kedhaton sebelah timur. Salah satu proses merias yang dilakukan adalah mengerik rambut dahi calon mempelai perempuan. Hal ini adalah simbol dari pembersihan diri dari hal-hal buruk.

Sementara itu, air dari tujuh mata air yang juga digunakan untuk calon mempelai putri diantarkan oleh salah satu putri Sultan yang sudah menikah ke kamar mandi di Bangsal Kasatriyan (Gedhong Pompa). Air ini akan digunakan untuk upacara Siraman calon mempelai pria.

Di Bangsal Kasatriyan, calon mempelai pria bersama keluarga dan rombongan sudah menunggu. Siraman akan dilakukan oleh ibunda calon mempelai wanita, ibunda calon mempelai pria, dan sesepuh-sesepuh lainnya. Urut-urutannya pun sama seperti yang dilakukan kepada calon mempelai wanita.

Upacara Siraman ini semuanya dilakukan oleh wanita. Alasannya adalah karena para wanita merupakan ibu yang merawat anak-anak. Jumlah orang yang menyirami harus berjumlah ganjil. Jumlah ganjil ini diambil dari kepercayaan Hindu yang melambangkan Trimurti (Brahma, Wisnu, Syiwa) yang juga dipercaya dapat menolak bala.

Siraman dilakukan sebagai simbol menyucikan diri. Menikah dianggap sebagai babak baru dalam kehidupan manusia, sehingga dengan Siraman diharapkan dapat menjadikan seseorang bersih secara jasmani maupun batin.

Majang Pasareyan, Tarub, & Bleketepe

Reg Danapranata

Regol Danapratapa merupakan salah satu tempat yang dipasangi tarub. Pemasangan tarub dilakukan setelah prosesi siraman.

Decorating Every Corner of the Palace En Masse

The Kraton wedding is always flagged with a Tarub installed at various spots around the Palace. It is a sign showing that the Kraton of Yogyakarta is holding a royal wedding. Besides, Tarub is also used to keep off perils. It is usually installed at the entrance portals of the Palace and at Bangsal Kepatihan.

A Tarub consists of banana stem, tuwuhan (paddy, coconut and other crops) and janur (young coconut leaves). The tuwuhan will be attached to several entrance spots, such as Pagelaran, Pacikeran, Tarub Agung, Regol Brajanala, Bangsal Ponconiti, Regol Keben, Doorlop Srimenganti, Bangsal Trajumas, Regol Danapertapa, Doorlop Bangsal Kencana, Kuncung Tratag Bangsal Kencana, and Regol Gepura.

Another set of decoration is Bleketepe (plaited coconut leaves). It will be attached to the Kuncung Tratag Bangsal Kencana Wetan (the front roof of the East Bangsal Kencana).

“Various parts of coconut tree are significantly used in this occasion. This is because a coconut tree is considered beneficial, either for its leaves, fruit, or trunk. Also, coconut tree lives long. All of those aspects are meaningful, while being also used as symbols and prayers,” said KRT Pujaningrat, an Abdi Dalem in the Kraton of Yogyakarta.

It is easily noticeable that the Palace will be full of decorations made of coconut leaves whenever it holds a royal wedding ceremony. The young coconut leaves are seen as beautiful as ray of lights, which makes it a must-have decoration during the important celebration days.

The making of the plaited coconut leaves, for the Bleketepe decoration, also turns out to be a special occasion as it involves hundreds of people, from students to mothers. This involvement reflects the high enthusiasm shown by the society in giving supports to events held by the Kraton.

In the meantime, while people are busy decorating with Tarub and Bleketepe, another thing is going on in the bride’s room. The activity of decorating the bride’s room, or in Javanese Majang Pasareyan, is carried out. The ones to decorate the bride’s room is the Queen, accompanied by her married daughters. During the Majang Pasareyan process, the bride’s room will be decorated with various fabrics, flowers, and other ornaments. The fabrics used have their own meanings, among others is to symbolize prayers for good luck, safety, and to keep off perils.

Tantingan

r bangsal prabayeksa 1

Sultan melakukan tantingan kepada putrinya di Bangsal Prabayeksa.

 An Inquiry to the Bride’s Heart

After the Siraman, the next ritual is Tantingan. Tantingan will be held in Emper Bangsal Prabayeksa at night after the Isya prayer. At this moment, the Sultan, accompanied by the Queen as well as their daughters, inquires about the bride’s resolution towards the marriage between her and the man who has proposed her.

The Kraton’s Penghulu, the Abdi Dalem Pemetakan, and the officer(s) from the Office of Religious Affairs of Kraton District will be the witnesses of the ritual.

In the past, Tantingan was a means to announce who would be married to the Sultan’s daughter; it was because at that time the marriage was a wedlock (arranged by the parents) in which the groom and the bride had not yet known each other normally.

As the time lapsed, the wedlock tradition began to vanish since the era of Sultan Hamengku Buwono IX. Today, the event is meant to inquire the bride’s resolution and preparedness to be married off and is still carried out to preserve the traditional culture of the Kraton. The ritual will also be held in Bagongan dialect (a specific speech level of Javanese used in the Kraton).

Tantingan

Menanyakan Kemantapan Hati

Setelah Siraman, upacara selanjutnya adalah Tantingan. Tantingan akan dilakukan di Emper Bangsal Prabayeksa pada malam hari setelah shalat Isya. Dalam upacara ini, Sultan didampingi Permaisuri dan putri-putrinya, menanyakan kemantapan hati serta kesiapan calon mempelai wanita untuk menikah dengan pria yang sudah meminangnya.

Tantingan akan disaksikan oleh Penghulu Kraton, Abdi Dalem Pemetakan, dan petugas KUA Kecamatan Kraton.

Dahulu kala, upacara Tantingan ini dijadikan sarana untuk memberitahukan siapa yang akan menikahi putri Sultan. Sebab, dulu calon mempelai pria dengan calon mempelai wanita belum saling mengenal karena pernikahan dilaksanakan melalui proses perjodohan.

Seiring berkembangnya zaman, adat perjodohan mulai memudar semenjak era Sultan HB IX. Saat ini, upacara Tantingan dimaksudkan untuk menanyakan kemantapan dan kesiapan calon mempelai wanita untuk dinikahkan. Upacara Tantingan ini tetap dilakukan dengan tujuan untuk melestarikan kebudayaan Kraton dan juga akan dilakukan dengan bahasa Bagongan (bahasa Kraton).

Read more at http://kratonwedding.com/tantingan/#b35To3i8CVlruJrY.99

Prosesi pernikahan Kraton selalu ditandai dengan dipasangnya Tarub di berbagai sudut di sekitar Kraton. Prosesi pasang Tarub merupakan tanda jika Kraton Yogyakarta mempunyai hajatan mantu. Selain itu, Tarub digunakan pula untuk sarana tolak bala. Tarub biasanya dipasang di gapura-gapura Kraton dan Bangsal Kepatihan.

Tarub terdiri dari pisang, tuwuhan (padi, kelapa dan palawija) serta janur. Tuwuhan tersebut akan dipasang di berbagai gapura, yakni: di Pagelaran, Pacikeran, Tarub Agung, Regol Brajanala, Bangsal Ponconiti, Regol Keben, Doorlop Srimenganti, Bangsal Trajumas, Regol Danapertapa, Doorlop Bangsal Kencana, Kuncung Tratag Bangsal Kencana, dan Regol Gepura.

Sementara Bleketepe adalah daun kelapa yang dianyam. Bleketepe akan dipasang di Kuncung Tratag Bangsal Kencana Wetan.

“Bagian-bagian pohon kelapa banyak digunakan dalam prosesi ini. Alasannya adalah karena kelapa dianggep salah satu buah yang berguna, berguna untuk apa saja, baik daunnya, buahnya, maupun batangnya. Dan pohon kelapa itu umurnya panjang. Semua ini diambil makna dan juga sebagai simbol sekaligus doa.” tutur KRT Pujaningrat, salah satu Abdi Dalem Kraton Yogyakarta.

Maka bisa dilihat, ketika terdapat hajat pernikahan, Kraton akan penuh dengan hiasan janur kelapa. Janur dianggap sebagai daun yang indah seperti layaknya cahaya sehingga harus ada di sekitar kita saat merayakan hari-hari yang penting.

Proses pembuatan ratusan anyaman kelapa ini pun menjadi momen istimewa karena semua orang, baik mahasiswa sampai ibu-ibu semuanya bergotong royong untuk membuat hiasan Tarub dan Bleketepe ini. Dari sini dapat dilihat betapa besar antusiasme masyarakat dalam mendukung hajatan Kraton.

Sementara itu, jika di luar sedang sibuk memasang Tarub dan Bleketepe, lain halnya di kamar pengantin. Pada waktu yang sama, ada prosesi Majang Pasareyan atau menghias kamar pengantin. Untuk kamar calon mempelai perempuan, yang menghias adalah Permaisuri bersama putri Sultan yang sudah menikah. Ketika prosesi Majang Pasareyan ini, kamar akan dihias dengan berbagai macam kain, bunga, dan juga pernak-pernik. Kain-kain ini memiliki makna tersendiri, di antaranya adalah untuk doa pengharapan, keselamatan, dan juga tolak bala.

Read more at http://kratonwedding.com/majang-pasareyan-tarub-bleketepe/#8uUIBcvRTy50rWJs.99

Midodareni

r-Srikaton

Srikaton merupakan tempat Sultan menemui calon mempelai pria dengan keluarganya pada saat Midodareni.

Waiting for the Return of the Widodari

After the Tantingan, the wedding will be continued with MidodareniMidodareni is derived from the stem widodari, a mythical graceful and fragrant female figure from heaven. Midodareni is the last night for the bride and the groom being an unmarried couple. In this ritual, the royal couple will be accompanied by friends and relatives.

The Midodareni will be held in Bangsal Kasatriyan for the groom, and in Sekar Kedhaton for the bride. The eve of Midodareni will be used by the Sultan to go to see the couple and visit the venue, checking if everything is ready for the next day’s events.

The Sultan and the Queen, as well as their relatives, will meet with the groom and his family in Bangsal Kasatriyan. The parents of both the bride and the groom will have a conversation to get to know each other better. Thereafter, the Sultan will look into the wedding room in Bangsal Kasatriyan to see whether everything is all set.

The Sultan, the Queen, and their entourage will then make a visit to the bride in Sekar Kedhaton.

The bride, along with relatives and some female Abdi Dalem (royal servants), will be in Bangsal Sekar Kedhaton. As in Bangsal Kasatriyan, here too the Sultan will ensure the bride and the ubarampe (ritual accessories) for the wedding are well prepared. Like parents in general, the Sultan wants his daughter’s wedding ceremony to be perfect, and for that he will make time to observe in person how the preparation is going.

On the eve of Midodareni, the bride is not allowed to sleep before 12 a.m. to wait for the coming of the widodari. The myth has it that the widodari will bestow beauty to her. Practically speaking, however, Midodareni is meant to be a mental preparation for the wedding.

The ceremony is originated from the legend of Jaka Tarub and Dewi Nawangwulan. Dewi Nawangwulan is a heaven deity who has a child with Jaka Tarub, a human. Going back to her world, she promises to return to Earth on the wedding of her daughter. Midodareni is inspired by the story of the deity’s descending to the human world to meet her marrying daughter.

Midodareni

Menanti Datangnya Bidadari

Setelah Tantingan, acara dilanjutkan dengan Midodareni. Midodareni berasal dari kata dasar widodari yang berarti bidadari yaitu putri dari surga yang sangat cantik dan sangat harum baunya. Midodareni adalah malam terakhir masa lajang bagi kedua calon mempelai. Di sini, kedua calon mempelai akan ditemani oleh teman-teman dan kerabatnya.

Midodareni akan dilakukan di Bangsal Kasatriyan untuk calon mempelai pria, dan di Sekar Kedhaton untuk calon mempelai wanita. Malam Midodareni ini akan digunakan Sultan untuk mengunjungi kedua calon mempelai sambil meninjau lokasi dan mengecek apakah semua sudah siap untuk acara esok hari.

Sultan bersama Permaisuri serta kerabat akan menemui calon mempelai pria dan keluarganya di Bangsal Kasatriyan. Di Bangsal Kasatriyan ini, kedua calon besan akan berbincang untuk saling mengakrabkan diri. Seusai berbincang, Sultan akan menengok kamar pengantin di Bangsal Kasatriyan dan melihat apakah semua sudah beres.

Selesai mengecek persiapan di Bangsal Kasatriyan, Sultan bersama Permaisuri dan rombongan kemudian mengunjungi calon mempelai wanita ke Sekar Kedhaton.

Calon mempelai wanita ditemani dengan keluarga dan beberapa Abdi Dalem wanita berada di Bangsal Sekar Kedhaton. Sama halnya di Bangsa Kasatriyan, disini Sultan juga melihat kesiapan calon mempelai wanita dan ubarampe untuk pernikahan. Layaknya orang tua pada umumnya, Sultan ingin pernikahan putrinya berjalan sempurna, oleh karena itu Sultan menyempatkan untuk melihat langsung persiapan pernikahan putrinya.

Pada malam Midodareni, calon mempelai putri harus tidur setelah jam 12 malam untuk menanti datangnya bidadari. Bidadari ini akan menganugerahkan kecantikan kepada sang calon mempelai. Makna Midodareni sendiri adalah untuk menyucikan diri dan menyiapkan mental untuk acara pernikahan.

Upacara Midodareni berakar dari cerita legenda Jaka Tarub dan Dewi Nawangwulan. Dewi Nawangwulan adalah seorang bidadari dari khayangan yang memiliki anak seorang manusia. Dewi Nawangwulan berjanji akan turun ke bumi kelak jika anaknya yang bernama Dewi Nawangsih menikah. Dengan demikian, upacara Midodareni diambil dari cerita turunnya Dewi Nawangwulan untuk menemui anaknya pada saat upacara Midodareni.

Read more at http://kratonwedding.com/midodareni/#fzG1iIQDEheyY99k.99

Akad Nikah

r masjid panepen 2

Akad Nikah dilaksanakan di dalam Majid Panepen. Ketika akad, masjid ini diisi oleh Sultan, Mempelai Pria, pangeran, petugas KUA dan beberapa abdi dalem pria.

Officially Pronounced Husband and Wife

The Akad Nikah (wedding solemnization) will be held in Panepen Mosque in the Royal Palace of Yogyakarta. There will only be the groom and the Sultan together with the families of both sides. The bride will be waiting in Sekar Kedhaton.

In Panepen Mosque, a sanggan (gift) in the form of a bunch of bananas will have already been prepared as a symbol of devotion to the Sultan. The attendees will be the male relatives only.

The groom will walk into the mosque in which the Sultan will have been waiting. Once the penghulu (the government official who supervises a wedding solemnization) and the groom’s entourage are inside, the solemnization begins with a wedding speech by the penghulu.

In this Akad Nikah, Sultan Hamengku Buwono X himself will marry off his daughter. The Sultan will proceed with saying the ijab kabul (the wedding vow) to which the groom will respond. Following the solemnization will be the recital of the wedding prayers and the signing of the marriage documents by the groom and the witnesses.

The Akad Nikah will be concluded with the groom doing sungkem (a ritual to show respect by kneeling and pressing one’s face into another’s knees) to the Sultan, who will have taken down and put the keris (a Javanese creese) he is bringing earlier behind him. It symbolizes the groom’s request for blessings from and respect for the Sultan as he is officially a husband to his daughter now.

Upon its end, the groom will go back to Bangsal Kasatriyan (Kasatriyan Hall) to prepare for the Panggih ceremony. Meanwhile, the Sultan will return to his residence in Kraton Kilen.

Akad Nikah

Resmi menjadi Suami – Istri

Akad Nikah akan dilakukan di Masjid Panepen Kraton Yogyakarta. Akad Nikah ini hanya akan dihadiri calon mempelai pria dan keluarga serta Sri Sultan beserta keluarga, tanpa calon mempelai wanita. Calon mempelai wanita akan berada di Sekar Kedhaton.

Di masjid Panepen, telah disediakan sanggan berupa pisang sejumlah satu lirang yang merupakan simbol pengabdian diri kepada Sultan. Akad Nikah ini hanya akan dihadiri oleh kerabat laki-laki.

Calon mempelai pria akan berjalan masuk menuju Masjid Panepen dimana Sultan HB X sudah menunggu di dalam masjid. Setelah penghulu dan rombongan calon mempelai pria masuk ke dalam Masjid Panepen, ijab kabul lalu dimulai dengan acara khotbah nikah oleh penghulu.

Pada saat Akad Nikah ini, Sultan HB X akan menikahkan sendiri putrinya. Sultan lalu akan melanjutkan dengan pengucapan ijab kabul yang kemudian dijawab oleh calon mempelai pria. Setelah pengucapan ijab kabul selesai, dilanjutkan dengan dipanjatkannya doa pernikahan dan acara penandatanganan dokumen ijab kabul oleh calon mempelai pria beserta para saksi.

Acara Akad Nikah akan ditutup dengan sungkem yang dilakukan mempelai pria kepada Sri Sultan HB X dengan terlebih dahulu melepas dan meletakkan keris yang ia bawa di belakang dirinya. Sungkem ini juga sekaligus menjadi simbol penghormatan dan mohon doa restu karena sudah sah menjadi suami dari putri Sultan.

Setelah Akad Nikah selesai, mempelai pria akan kembali ke Bangsal Kasatriyan untuk bersiap-siap melakukan acara Panggih. Sementara Sultan akan kembali ke Kraton Kilen.

Read more at http://kratonwedding.com/akad-nikah/#XZMFG0e3oWC953Hc.99

Panggih

r-Bangsal-Kencono

Prosesi Panggih dan Pondhongan dilakukan di Bangsal Kencana. Bangsal Kencana terletak di tengah kompleks Kraton Yogyakarta.

The Newlyweds Meet with Each Other

After the Akad Nikah (wedding solemnization), the event is followed up by the Panggih Ceremony. Panggih means ‘to meet’. During the Panggih ceremony, the bride and the groom will meet with one another for the first time after officially being husband and wife. Panggih Ceremony is held at Tratag Bangsal Kencana.

The Sultan and the Queen will arrive earlier at the Emper Kagungan Dalem Bangsal Kencana Wetan (the terrace of the East Bangsal Kencana). The groom, accompanied by his escorts, will then be called up to offer the Sanggan Pethukan, a decorated stem of banana, along with the edan-edanan parade.

The traditional ceremony is initiated by two women acting as envoys from the family of the in-laws, which symbolizes that the groom is now ready to meet the bride. Accompanied by the two female envoys sent by the bride’s parents, the groom will then be taken to his mother-in-law to ask for the bride to be taken out to meet him.

Once the decorated banana stem is received by the bride’s family, the bride herself will then come out along with the Kembar Mayang, a flower bouquet consisting of a banana tree and coconut leaves. The bride will walk behind two companions, each of who carries a piece of Kembar Mayang. Alike the bride, the groom is also accompanied by two pieces of Kembar Mayang.

The ceremony is then continued with the Balangan Gantal ritual done by both the bride and the groom. The couple will throw to each other gantal, pieces of rolled betel leaves tied using white thread or lawe. The betel leave rolls will be thrown in turn. The ritual of Balangan Gantal symbolizes that in their future marriage life, they will encounter various misunderstandings, all of which should be ended with peace. This is because misunderstanding is a part of the dynamics within marriage life.

The ceremony will then be continued with a ritual named Mecah Tigan (breaking an egg) done by the groom. The groom will break a prepared egg by stepping on it. This signifies that the couple is stepping on a new phase of life, from being single into married man and woman building a new family.

Finished with Mecah Tigan, the next one to follow is WijikanWijikan is a ritual where the bride washes the groom’s feet. The groom’s feet will be immersed into a tray to allow the bride to wash them. Wijikan symbolizes the wife’s devotion towards her husband.

The last ritual within the ceremony is called Pondhongan, which means ’to carry someone on one’s arms’. The Pondhongan ritual is held only in the Kraton, and will not be found within any common traditional wedding ceremonies. The Pondhongan is carried out when the bride is a daughter of a King.

She will be carried on the arms of two men—her uncle and her husband. The ceremony symbolizes that the bride, being a king’s daughter, should be on an honorable place. The bride will be carried from Tratag Bangsal Kencana to the North Emper Kagungan Dalem or the terrace of Bangsal Kencana. The couple will then walk hand-in-hand to the wedding stage.

After completing the Pondhongan ritual, the wedding phase will then be followed up by a congratulating session. Upon this session, the guests will walk to the wedding stage to congratulate the couple as well as their families.

After the session is over, the couple will then walk out of Bangsal Kencana back to Bangsal Kasatriyan, accompanied by the edan-edanan dance. Edan-edanan itself is a ritual to keep off perils, where the Abdi Dalem put make-ups on their faces and dance. The ritual symbolizes that the beautiful and gallant newlyweds need balance, which is shown through the Abdi Dalems who appear like madmen with ragged outfits. The dance is also addressed to keep off demonic spirits from disturbing the Panggih ceremony.

Panggih

Bertemunya Kedua Mempelai

Setelah Akad Nikah, acara akan dilanjutkan dengan Upacara Panggih. Panggih artinya bertemu. Di upacara Panggih, kedua mempelai akan dipertemukan pertama kali setelah resmi menjadi suami istri. Upacara Panggih dilakukan di Tratag Bangsal Kencana.

Sri Sultan beserta Permaisuri akan terlebih dahulu tiba di Emper Kagungan Dalem Bangsal Kencana Wetan. Sang calon mempelai pria beserta para pengiring kemudian dipanggil untuk menghaturkan Sanggan Pethukan diiringi dengan barisan edan-edanan.

Upacara adat diawali dengan menghaturkan pisang sanggan yang menjadi tanda bahwa mempelai pria sudah siap dipertemukan dengan mempelai wanita. Dengan didampingi oleh dua wanita sebagai utusan dari keluarga besan, mempelai pria diantarkan kepada ibu mertua untuk meminta agar mempelai putri dikeluarkan dan dipertemukan dengan mempelai pria.

Setelah pisang sanggan diterima oleh keluarga mempelai wanita, selanjutnya mempelai wanita keluar bersamaan dengan Kembar Mayang. Di sini, mempelai wanita akan berjalan di belakang dua orang yang masing-masing membawa Kembar Mayang. Seperti halnya mempelai wanita, mempelai pria juga diiringi dengan dua Kembar Mayang.

Upacara dilanjutkan dengan kedua mempelai yang akan melakukan Balangan Gantal. Di sini, kedua mempelai saling melempar gantal atau sirih yang digulung benang warna putih (lawe). Kedua mempelai melemparkan gantal secara bergantian. Balangan Gantal ini memilliki makna bahwa dalam kehidupan pernikahan kelak, pasti akan terjadi kesalahpahaman yang harus diakhiri dengan perdamaian. Kesalahpahaman merupakan bagian dari dinamika hidup kehidupan suami dan istri.

Upacara dilanjutkan dengan Mecah Tigan (memecahkan telur) oleh mempelai pria. Di sini, mempelai pria akan menginjak telur yang sudah disiapkan. Mecah Tigan ini memiliki makna bahwa mempelai akan menginjak kehidupan baru, dari yang semula belum menikah, menjadi berkeluarga.

Selanjutnya, dilakukan WijikanWijikan dilakukan dengan membasuh kaki mempelai pria oleh mempelai wanita. Di sini, kedua kaki mempelai laki-laki akan masuk ke dalam sebuah nampan kemudian mempelai wanita membasuh kaki mempelai pria. Wijikan merupakan simbol dari wujud bakti seorang istri kepada suaminya.

Upacara terakhir adalah Pondhongan. Pondhongan ini hanya terdapat di Kraton dan tidak akan ditemukan di acara pernikahan adat di masyarakat umum. Sebabnya, Pondhongan dilakukan karena mempelai wanita adalah anak Raja.

Di sini, mempelai wanita akan dipondhong (dibopong) oleh dua orang laki-laki yang merupakan paman dan suaminya. Upacara ini dilakukan sebagai simbol bahwa mempelai wanita, sebagai anak raja, haruslah berada di posisi yang terhormat. Mempelai wanita akan dibopong dari Tratag Bangsal Kencana menuju Emper Kagungan Dalem Bangsal Kencana sebelah utara. Kedua mempelai setelah itu akan berjalan bergandengan tangan menuju pelaminan.

Setelah Pondhongan, acara dilanjutkan dengan pemberian ucapan selamat. Ini adalah saatnya bagi para tamu untuk maju ke pelaminan dan memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai beserta keluarga.

Setelah proses pemberian ucapan selesai, kedua mempelai akan berjalan keluar dari Bangsal Kencana dan kembali ke Bangsal Kasatriyan diiringi dengan tarian edan-edananEdan-Edanan adalah ritual tolak bala yang dilakukan oleh para Abdi Dalem yang akan merias diri mereka dan menari. Hal ini memiliki makna bahwa pasangan pengantin dengan ketampanan dan kecantikannya dianggap membutuhkan keseimbangan yang diwujudkan oleh penampilan Abdi Dalem yang ngedan dengan dandanan compang-camping. Tarian ini juga dimaksudkan sebagai penolak roh-roh jahat yang akan mengganggu jalannya upacara Panggih.

Read more at http://kratonwedding.com/panggih/#sKXlYokePmj1TEkW.99

Tampa Kaya & Dahar Klimah

r gadri kasatriyan 1

Gadri yang terletak di Bangsal Kasatriyan digunakan untuk prosesi Dahar Klimah

 The Symbol of the Husband’s Responsibility to Provide for the Wife

 After the Panggih ritual, the ceremony will be continued with another set of rituals, the Tampa kaya and Dhahar Klimah, held in Bangsal Kasatriyan.

During the Tampa Kaya ritual, both the bride and the groom enter a room in the Bangsal Kasatriyan. In this room, the groom sits on the edge of pendaringan (a kind of bed) and the bride sits on the floor in front. Next to the feet of the groom, there will be a pack of items consisting of gold coins, and all kinds of ubarampe, a variety of seeds, rice, and dimes symbolizing wealth, which will then be kept by the bride. The concept of Tampa Kaya contains a meaning that a husband has a duty to earn a living for the wife. This ceremony will be closed with prayer and followed by Dhahar Klimah. Here, the groom will ball the steamed rice to be fed to the bride. The groom will get three yellow steamed rice balls along with side dishes to be eaten by the bride. The amount of the rice balls taken by the groom is in odd numbers since it is believed that odd numbers are able to keep off perils. This ceremony means that a husband should be ready to support his family. After that, both the bride and the groom will eat together.

Both rituals symbolize the relationship of husband and wife. They mean to identify the responsibility of both persons as husband and wife, in which the husband provides for the family and the wife should be wise and responsible for keeping and managing the given livelihood.

Tampa Kaya & Dahar Klimah

Simbol Kewajiban Suami untuk Menafkahi sang Istri

Setelah upacara Panggih, acara akan dilanjutkan dengan Tampa Kaya dan Dhahar Klimah di Bangsal Kasatriyan.

Saat Tampa Kaya dilakukan, kedua mempelai akan masuk ke sebuah kamar di komplek Bangsal Kasatriyan. Di kamar ini, mempelai pria duduk di tepi pendaringan (semacam tempat tidur) dan mempelai wanita akan duduk di bawahnya. Di dekat kaki sang mempelai pria, akan ada sebungkus harta yang berisi koin emas dan segala ubarampe berupa berbagai macam benih, beras dan uang receh yang melambangkan harta kekayaan, yang kemudian akan disimpan oleh mempelai wanita. Tampa Kaya memiliki makna bahwa seorang suami bertugas untuk memberikan nafkah kepada istrinya. Upacara ini kemudian ditutup dengan doa.

Setelah itu dilakukan upacara Dhahar Klimah. Di sini, mempelai pria akan mengepal nasi untuk kemudian diberikan kepada mempelai wanita. Mempelai pria akan mengambilkan tiga kepal nasi kuning beserta lauk pauknya untuk dimakan oleh mempelai wanita. Upacara ini memiliki makna bahwa seorang suami harus siap menghidupi keluarganya. Setelah itu, kedua mempelai kemudian akan makan bersama. Kepalan nasi kuning yang diambil oleh mempelai pria berjumlah ganjil karena angka ganjil dipercaya sebagai angka yang dapat menolak bala.

Kedua upacara ini akan menjadi simbolisasi hubungan suami-istri. Makna dari upacara ini adalah tanggung jawab kedua insan sebagai suami-istri dimana suami mencari nafkah untuk keluarga dan istri harus secara bijak dan bertanggung jawab menyimpan dan mengelola nafkah yang diberikan.

Read more at http://kratonwedding.com/tampa-kaya-dahar-klimah/#8ivYTUQ153l46fmP.99

Kirab

r-Pagelaran-Kraton-Yogyakarta

Saat Kirab, rombongan Kereta Sultan HB X akan berangkat dari Pagelaran Kraton menuju Gedung Kepatihan.

Becoming One with the People

One of the most interesting traditions in the Royal Wedding for common people is the Kirab, which means ‘the Procession’. This wedding procession takes the bride and the groom along with their parents to the place where the reception is going to be held. The Kirab consists of horse carriages escorted by marching royal troops. It originally takes the route encircling the Royal Palace. But for the wedding of G.K.R. Hayu and K.P.H. Notonegoro, it will start from the Royal Palace heading straight to the Kepatihan Building.

There will be as many as 12 horse carriages in the procession. Aside from introducing the royal couple to the public, this event is also intended to reflect the close relationship between the Kraton and the people. It is a symbolization of manunggaling kawula gusti, a Javanese principle that signifies the unity of the king and the people. When leaders are in union with their people, there will be prosperity and peace.

In the convoy, the royal couple will ride in a carriage called Kanjeng Kyai Jongwiyat. The Sultan and the Queen will be carried in Kanjeng Kyai Wimono Putro.

The procession of horse carriages will be divided into two. The first group comprises the carriages that take the royal couple, the parents of the groom, the royal escorts, and the dancers, and is followed by royal troops. As the first group arrives in Kepatihan Building, the second group, which carries the Sultan and the Queen along with their officials, will depart from the Royal Palace.

There will be five carriages in the first group that will be led by the one that brings the royal couple. These carriages are Kanjeng Kyai Jongwiyat for the bride and the groom, Kanjeng Kyai Notopuro for the utusan dalem (the Sultan’s envoy), Kanjeng Kyai Rejopawoko for the patah manten (little girls whose task is to fan the royal couple on the bridal dais), and Kanjeng Kyai Rotobiru and Kanjeng Kyai Permili for the performers of the Bedhaya sacred dance.

The group of the royal couple will also be accompanied by the Lawung Ageng dancers up front riding on 12 horses and the Bregodo Prawirotomo and Bregodo Patangpuluh royal troops that total to 120 soldiers (one bregodo, or unit, consists of 60 soldiers).

The second group will set off once this first part of the procession is over. It consists of seven carriages that will transport the Yogyakarta royal family and the family of Paku Alam IX (the Duke of Pakualaman domain located within Yogyakarta territory; in modern time holds the position of vice governor of the special region).
r-Wirobrojo

Bregodo Wirobrojo adalah sebutan untuk salah satu prajurit yang ada di Kraton Yogyakarta. Bregodo Wirobrojo juga akan turut serta dalam prosesi Kirab saat pernikahan GKR Hayu esok dan bertugas mengiringi rombongan Kereta Sultan.

Sri Sultan Hamengku Buwono X and the Queen will ride in Kanjeng Kyai Wimono Putro on this occasion. This carriage will be drawn by eight horses. Three carriages called Kus Abut, Kus Cemeng, and Kus Ijem will carry the princesses following behind the Sultan’s. There will also be royal troops accompanying this group. As many as 240 soldiers in total will be in place, consisting of four bregodos i.e. Wirobrojo, Mantrijero, Ketanggung and Daeng. In the last row, the family and relatives of Paku Alam IX will ride in three Kraton carriages.

Kirab

Menyatu dengan Rakyat

Salah satu tradisi yang akan paling menarik animo masyarakat saat adanya pernikahan Kraton adalah Kirab. Kirab Pengantin adalah prosesi yang dilakukan untuk mengantar mempelai dan kedua orang tua mempelai sampai ke pelaminan. Kirab dilakukan dengan iring-iringan kereta kuda yang disertai dengan arak-arakan prajurit. Sejatinya, Kirab dilakukan dengan rute memutari Kraton. Namun, untuk pernikahan GKR Hayu & KPH Notonegoro esok, Kirab hanya akan dilakukan dengan rute dari Kraton menuju Gedung Kepatihan.

Iring-iringan kereta kuda yang digunakan untuk Kirab akan berjumlah 12 kereta. Arak-arakan ini selain untuk memperkenalkan kedua mempelai kepada masyarakat juga sebagai simbol dekatnya hubungan Kraton dengan rakyat. Arak-arakan ini merupakan simbolisasi manunggal ing kawula gusti, yang artinya menciptakan kesejahteraan bagi umat manusia. Dimana ketika pimpinan bersatu dengan rakyat, pasti akan ada kemakmuran dan ketenteraman.

Saat iring-iringan kereta kuda ini, kedua mempelai akan menggunakan Kereta Kanjeng Kyai Jongwiyat. Sementara itu, Sri Sultan beserta Permaisuri akan menggunakan Kereta Kanjeng Kyai Wimono Putro.

Keberangkatan iring-iringan kereta kuda ini dibagi menjadi dua. Rombongan kereta kuda pertama adalah kereta mempelai, orang tua mempelai pria, para pengiring, penari, serta prajurit Kraton. Sesampainya rombongan pertama di Kepatihan, barulah rombongan kereta kedua yakni Sultan dan Permaisuri beserta perangkatnya berangkat menuju Kepatihan.

Rombongan pertama terdiri dari lima kereta yang akan dinaiki oleh rombongan mempelai di barisan paling depan. Kereta-kereta tersebut terdiri dari Kereta Kanjeng Kyai Jongwiyat untuk kedua mempelai, Kereta Kanjeng Kyai Notopuro untuk para Utusan Ndalem, Kereta Kanjeng Kyai Rejopawoko untuk Patah Manten, Kereta Kanjeng Kyai Rotobiru serta Kereta Kanjeng Kyai Permili untuk para penari Bedhaya.

Rombongan mempelai juga akan diiringi oleh para penari Lawung Ageng yang mengendarai 12 kuda di bagian depan serta pasukan Bregodo Prawirotomo dan Bregodo Patangpuluh (prajurit keraton) yang totalnya mencapai 120 orang (satu Bregodo terdiri dari 60 orang prajurit).

Setelah rombongan pertama sampai, rombongan kedua baru akan berangkat. Rombongan kedua ini terdiri dari tujuh kereta yang akan membawa rombongan keluarga Kraton Yogyakarta dan rombongan kerabat Pakualaman IX.

Untuk rombongan keluarga Kraton, kereta-kereta tersebut adalah Kereta Kanjeng Kyai Wimono Putro yang akan dinaiki oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X beserta Permaisuri. Kereta ini akan ditarik oleh delapan kuda. Berikutnya, Kereta Kus Abut, Kus Cemeng dan Kus Ijem akan mengikuti di belakang kereta Raja untuk para putri Keraton. Rombongan Raja juga akan diiringi oleh prajurit Bregodo Keraton. Totalnya sekitar 240 prajurit, terdiri dari empat Bregodo yakni Bregodo Wirobrojo, Mantrijero, Ketanggung dan Daeng. Lantas pada deretan terakhir, rombongan kerabat Pakualaman IX akan mengikuti dengan menaiki tiga kereta kuda milik Kraton.

Read more at http://kratonwedding.com/kirab/#JIKFr8tv4lkuIOeZ.99

Reception

r-Bangsal-Kepatihan

Bangsal Kepatihan yang terletak di Komplek Kantor Gubernur DIY digunakan untuk resepsi pernikahan GKR Hayu dan KPH Noto pada 23 Oktober 2013

Introducing the Newlyweds to the People

After paraded in the Kirab procession, both the bride and the groom will arrive at Kepatihan building to join the Pahargyan (the Reception). The royal couple are going to take a quick rest in Kagungan Dalem Gedhong Pacar Binatur before the Reception is commenced.

The Pahargyan is basically similar to those receptions held in common weddings. However, the attraction here is the performance of the famous traditional dances of the Kraton of Yogyakarta. The reception will be started with offering a prayer and then continued with the Bedhaya Manten and Lawung Ageng Dances.

The Bedhaya Manten Dance is symbolizes one’s journey into the marriage life. It is performed by six female dancers, who all are unmarried virgins. Two of the dancers will act as the bride and the groom, while the other four will act as the Srimpi dancers. The dance was composed by Sultan Hamengku Buwono IX, bearing the message of being ready and self-reliant in building the future of life.

The Lawung Ageng Dance, which symbolizes the spirit of patriotism within the heart, is brought by 12 male dancers. The dance also symbolizes the Kraton’s soldiers in training to battle in a war. Prior to dancing, the twelve dancers depart to Kepatihan by riding on horses. The dance was composed by Sultan Hamengku Buwono I, which signifies the union of lingga (an image representing masculinity) and yoni (an image representing femininity) as the symbol of fertility. During the dance, the dancers will also perform war-like acts or skill fighting.  During the skill fighting session, they will use a lawung, a three-meter long sticks with blunt end, which are used by crossing and shoving it.

The wedding reception will be carried out according to the standard tradition of the Kraton of Yogyakarta; and tosca-lavender will be the atmospheric color of the event. Approximately 2500 invitees will join the crowds in the wedding reception.

Resepsi

Memperkenalkan Pengantin kepada Rakyat

Selesai diarak melalui prosesi Kirab, kedua mempelai akan tiba di gedung Kepatihan untuk melaksanakan acara Resepsi. Sesampainya di gedung Kepatihan, pengantin akan beristirahat sejenak di Kagungan Dalem Gedhong Pacar Binatur sebelum acara Resepsi dimulai.

Acara Pahargyan (resepsi) pada dasarnya sama dengan resepsi yang ada di masyarakat umum. Namun, yang menarik adalah akan ditampilkannya tarian adat Kraton Yogya yang terkenal. Resepsi akan dimulai dengan doa lalu dilanjutkan dengan Tarian Bedhaya Manten dan kemudian Tarian Lawung Ageng.

Tarian Bedhaya Manten dibawakan oleh enam penari yang merupakan simbol dari perjalanan seseorang menuju gerbang rumah tangga. Tari Bedoyo Manten ditarikan oleh enam wanita yang masih perawan. Dua wanita berperan sebagai sepasang pengantin sementara empat penari lainnya memerankan diri sebagai penari Srimpi. Tarian ini diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwono IX yang menunjukkan kesiapan dan kemandirian untuk membangun kehidupan ke depannya.

Tarian Lawung Ageng dibawakan 12 penari pria dan menunjukkan jiwa pratiotisme yang tertanam dalam sanubari. Tarian ini juga merupakan simbolisasi para prajurit Kraton yang sedang berlatih perang. Sebelumnya, kedua belas penari ini berangkat menuju Kepatihan dengan mengendarai kuda. Tarian ini merupakan karya Sultan Hamengku Buwono I yang memiliki makna penyatuan lingga-yoni sebagai lambang kesuburan. Tarian ini juga akan menampilkan gerakan latihan perang-perangan atau adu ketangkasan. Alat ketangkasan yang dipergunakan adalah lawung, yaitu tongkat panjang berukuran tiga meter, berujung tumpul, dan digerakkan dengan cara menyilang dan menyodok.

Acara Resepsi akan berlangsung dengan pakem adat Kraton Yogyakarta dengan nuansa tosca-lavender. Diperkirakan akan ada 2500 undangan yang turut hadir meramaikan acara ini.

Read more at http://kratonwedding.com/reception/#O8aKm5QaBxcSokBb.99

Pamitan

r gedhong jene 1

Tempat yang akan digunakan untuk pamitan adalah Gedhong Jene. Gedhong Jene merupakan tempat tinggal Sultan, terletak di dekat Bangsal Kencana.

Words of Wisdom for the Newlyweds

After the reception is finished, later on the evening there will be the Pamitan (farewell) that also serves as the closing of the entire processes of the wedding ceremonies. It will be held in Gedhong Jene and attended by the families of the bride and the groom.

The couple will start the ritual by coming out of Bangsal Kasatriyan followed by the bride’s group of penganthi (family escorts) as well as the bridegroom’s. Arriving in Gedhong Jene, the entourage will stop for a moment until the newlyweds are asked to enter the building and begin the Pamitan.

In the ceremony, Sri Sultan Hamengku Buwono X will deliver some advice and counsels to the bride and bridegroom that may be useful for them in living a family life, of which essential principle is that they should be able to respect, value, and complete one another. The Sultan will also symbolically entrust his daughter to the groom’s parents during the occasion.

The groom’s family will then express their gratitude to the Kraton family. In addition, they will ask for forgiveness for any wrongdoing they may have made during the ceremony.

The Pamitan will end with Sungkeman (a tradition where young people kneel before the elders and kiss their hands to ask for blessings). The Sungkeman will be performed by the bride and the groom to their parents and parents-in-law.

Pamitan

Pemberian Wejangan kepada Kedua Pengantin oleh Sultan

Setelah acara resepsi selesai, malamnya akan diadakan upacara Pamitan yang sekaligus juga menutup rangkaian upacara pernikahan secara keseluruhan. Pamitan akan diadakan di Gedhong Jene dan dihadiri oleh keluarga mempelai wanita dan keluarga mempelai pria.

Kedua mempelai akan memulai upacara Pamitan dengan keluar dari Bangsal Kasatriyan dengan diiringi rombongan penganthi mempelai wanita dan penganthi mempelai pria. Sesampainya di Gedhong Jene, rombongan akan berhenti sejenak, lalu kedua mempelai dipersilakan masuk ke dalam Gedhong Jene untuk memulai upacara Pamitan.

Dalam upacara Pamitan pengantin ini, Sri Sultan Hamengku Buwono X akan menyampaikan beberapa pesan dan nasihat kepada kedua mempelai sebagai bekal mereka untuk mengarungi kehidupan rumah tangga ke depannya yang intinya harus bisa saling menghormati, saling menghargai, dan saling mengisi. Di sini Sultan juga sekaligus menitipkan putrinya kepada sang besan.

Setelah itu, keluarga mempelai pria akan menyampaikan terima kasih kepada keluarga Kraton. Selain terima kasih, keluarga mempela pria juga memohon maaf jika selama acara berlangsung terdapat hal-hal yang kurang berkenan.

Acara Pamitan akan ditutup dengan sungkeman. Sungkeman akan dilakukan oleh kedua mempelai kepada orang tua dan mertua mereka.

Read more at http://kratonwedding.com/pamitan/#i86mU0juQtM8Q30W.99

Source : http://kratonwedding.com/

Loading Facebook Comments ...

Leave a Reply

Contact Us

Translation Service

Contact Us

Translation Service

Follow me on Twitter

Start here

Translation Service

Professional Translations for Japanese
Translation agency in Japan, Tokyo believes real professional English Japanese translation is the whole experience -- Complete satisfaction.
%d bloggers like this:
Wordpress content guard plugin by JaspreetChahal.org